Sabtu, 13 Oktober 2012

Langkah Desain Seismik 2D

Berikut langkah-langkah desain parameter seismik 2D melalui pendekatan klasik :

  • Estimasikan dari data seismik terdahulu, data sumur, atau dari data geologi seperti maksimum dip serta cakupan luas area yang menjadi target. Bukan hanya dip dari reservoar akan tetapi juga dip dari patahan atau dip ketidakselarasan (unconformity) atau data geologi lainnya yang relevan. Dengan data ini, hitung maksimum grup interval receiver (Dx)untuk mencegah terjadinya aliasing dari frekuensi maksimum (fmax) data yang diinginkan yang pada dasarkan memberikan minimum dari ketebalan target.
  
          Dengan amax adalah maksimum dip
  
  • Tentukan maksimum offset yang sama dengan maksimum kedalaman target.

  • Hitung jumlah channel aktif tiap shot (nc) dari maksimum offset dan grup interval receiver.
          Untuk jenis bentangan split-spread jumlah channel dikalikan dengan 2

  • Dari S/N ratio yang diharapkan dalam data (diestimasikan dari data seismik yang terdahulu atau data seismik yang terdekat), hitung jumlah minimum fold yang diperlukan

  • Dari fold, banyaknya channel dan group interval receiver, hitung interval source (Ds)
  • Hitung Migration aperture (Ma) dari kedalaman z dan dip a dari reflektor yang paling curam. Dalam akuisisi 2D biasanya dilakukan pendekatan dengan :
 
           Karena kecepatan akan bertambah seiring dengan bertambahnya kedalaman, maka pendekatan ini sedikit lebih pesimis untuk dihitung, akan tetapi sebagian menggunakannya.
 
Ini adalah parameter-parameter yang relevan untuk akuisisi seismik 2D. Pertimabangan penting lainnya adalah seperti jenis sumber (sebagai contoh, ukuran muatan dan kedalaman muatan) yang biasanya ditentukan dengan parameter test lapangan sebelum dimulainya akuisisi.